“Dari Bali ya? Kenapa pindah ke Jambi?”
“Mas dari Bali kan? Kok mau pindah ke Jambi?
Di Bali kan enak, banyak pantai…”
“Kok mau sih pindah ke Jambi? Di Bali kan
enak, bisa liburan setiap hari”
“Kamu sudah diangkat jadi PNS ya di Jambi?
Ditempatkan dimana?”
Itulah beberapa
pertanyaan yang masih bisa saya ingat, yang sering ditanyakan sejak 28 Desember
2018 lalu. Ya, sejak saat itu, saya pindah dari kampung halaman saya, Bali, ke
Jambi, untuk bekerja di salah satu sekolah swasta/SPK di kota Jambi. Ketika
saya mengutarakan keinginan saya untuk pindah ke Jambi kepada para sahabat,
saya masih ingat sekali ekspresi mereka yang tampak terbengong-bengong dan
keheranan atas apa yang baru saja saya sampaikan. Pun sama juga ketika saya
mengutarakan keinginan keinginan saya kepada keluarga. Bahkan ada juga yang
mengatakan saya sudah gila, diterpa kerasnya kehidupan di kota Denpasar.
Saya paham betul
kenapa banyak orang heran akan keputusan saya. Saya juga paham betul kenapa ada
orang yang mengatakan saya sudah gila. Yang saya ketahui, normalnya, orang Bali
akan pergi bekerja ke luar Bali jika: 1) Sekolah di luar Bali; 2) Menjadi
Pegawai Negeri Sipil (PNS); 3) Menjadi perwira ataupun bintara kepolisian atau
tentara; 4) Menjadi Anak Buah Kapal (ABK) Kapal pesiar; 5) Mempunyai keluarga
yang tinggal di luar Bali. Saya sendiri tidak masuk ke salah satu golongan
tadi. Bahkan, ketika mayoritas orang Bali merantau ke kota besar, saya malah
merantau ke Jambi. Dari semua kota yang ada di pulau Jawa, yang notabene adalah
pusat ekonomi republic ini, saya memilih Jambi. Really dude?
Berbicara soal
ekonomi, memang kampung halaman saya, Bali, berada di atas angin. Berdasarkan
data Kajian Ekonomi Regional Bank Indonesia, Ekonomi Bali di tahun 2018
mengalami akselerasi kinerja dengan tumbuh sebesar 6,35% (yoy), lebih tinggi
dibanding pertumbuhan ekonomi tahun 2017 sebesar 5,57% (yoy). Capaian kinerja
ekonomi Bali tersebut, juga lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi Nasional
tahun 2018 sebesar 5,17% (yoy). Pertumbuhan ekonomi Jambi tahun 2018 adalah
sebesar 4,71%, berada hampir 2 poin di Bali. Sederhananya, lebih banyak ada
aktivitas ekonomi di Bali, dan kita bisa mendapat tambahan penghasilan lumayan
sebagai salah satu pelakon gig economy.
Lantas, kenapa Jambi?
Hampir semua
pertanyaan tentang alasan saya pindah ke Jambi, saya jawab dengan “kabur
dari mantan”. Tentu saja ini tidaklah benar, tetapi jawaban saya ini cukup
untuk menghentikan pertanyaan lanjutan mereka. Kalau sudah tentang cinta, susah
untuk dicarikan logikanya (Cieeeh). Oke,
cukup. Tulisan ini saya maksudkan untuk menjawab kenapa saya ke Jambi dengan
sebenar-benarnya. Alasan saya ada dua, yakni pesawat terbang dan kesempatan.
Pesawat terbang?
Apakah di Jambi pesawat terbang adalah bagian dari kontrak saya? Tentu tidak.
Maksudnya adalah saya adalah orang yang suka berpergian. Saya masih ingat
sekali, saat saya masih kecil, saya menonton program berbahasa Inggris di TVRI
kalau tidak salah. Program tersebut menanyangkan seorang backpacker yang berpetualang berbagai tempat. Di pertengahan acara
ia mengatakan, “Since I was a child, I
always say, I wanna be a tourist”. Sejak saat itu saya menjadikan menjadi
turis sebagai salah satu cita-cita saya. Terbang dari Bali ke Jambi membutuhkan
transit. Artinya, saya harus dua kali naik pesawat yang berbeda. Bagi sebagian
orang, sangatlah melelahkan untuk naik pesawat dua kali. Bagi saya, semakin
banyak pesawat yang saya naiki, semakin bagus (haha). Saya sudah pernah
mengunjungi semua ibukota provinsi di pulau Jawa. Jambi, adalah titik pertama
petualangan saya di pulau Sumatra.
Kesempatan
adalah alasan yang paling penting. Pertengahan tahun 2018, saya memang sudah berencana
untuk bekerja di luar Bali. Saat itu, saya membayangkan untuk bekerja di
Ibukota. Ada beberapa email yang masuk, dan email yang paling menyita perhatian
saya adalah email dari Jambi, dari sekolah tempat dimana saya sekarang bekerja.
Saya termasuk orang yang beruntung saat itu, dimana saya memiliki seorang Head of School yang sangat suportif.
Saya meminta pendapat beliau, dan dengan tegas ia mengatakan, why not? Saya memulai proses lamaran,
dan dari waktu ke waktu saya merasa bahwa sekolah di Jambi sangat serius dan
saya bisa melihat banyak kesempatan baru dan serius yang bisa saya dapatkan di
Jambi. Sampai pada akhirnya, dengan dukungan beberapa penasehat, saya mantap
memutuskan untuk pindah ke Jambi.
Sampai sekarang,
saya merasa keputusan yang saya ambil sudah tepat. Sampai saya menulis tulisan
ini, saya merasa saya mendapat banyak pembelajaran dan mendapat banyak kesempatan
baru. Saya merasa terus berkembang setiap harinya. Sekolah saya juga sangat
menghargai ide-ide baru dan inovasi-inovasi baru. Secara umum, saya menikmati
pekerjaan dan problem yang ada, walaupun ada beberapan kekurangan di tempat
ini, yang saya pikir itu adalah sebuah kewajaran. Saya selalu mengingat
wejangan dari Head of School di
sekolah lama. Fokuslah pada pekerjaan. Be
a lifelong and avid learner. Jangan focus pada kekurangan, karena apapun di
dunia pasti memiliki kekurangan. Fokuslah pada apa yang kamu bisa lakukan.
Lalu kalau
urusan perut, bagaimana? Well, ini boleh
dibilang salah satu kebanggaan saya pribadi. Sejujurnya, saya sempat bingung
juga untuk memutuskan antara pindah ke Jakarta, Jambi atau tetap di Bali. Apa
yang bisa dibanggakan dari sebuah kebingungan? Yang bisa saya banggakan adalah
keputusan saya saat itu untuk menggunakan data-based
approach. Dengan asumsi pemasukan
yang didapat sama di tiga wilayah tersebut, saya menggunakan data biaya hidup
yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) untuk tiga wilayah tersebut,
untuk mengitung berapa uang yang bisa saya tabung sebulannya. Hasilnya, saya
bisa menabung sedikit lebih banyak di Jambi. Mungkin karena di Jambi minim
tempat hiburan sehingga godaan untuk keluar sedikit. Selain itu, saya mendapat
sebuah kamar asrama dari sekolah yang nyaman, membuat saya memilih untuk
menghabiskan malam di kamar daripada di luar.