Kamis, 07 Mei 2020

Kenapa Pindah ke Jambi?

“Dari Bali ya? Kenapa pindah ke Jambi?”
“Mas dari Bali kan? Kok mau pindah ke Jambi? Di Bali kan enak, banyak pantai…”
“Kok mau sih pindah ke Jambi? Di Bali kan enak, bisa liburan setiap hari”
“Kamu sudah diangkat jadi PNS ya di Jambi? Ditempatkan dimana?”

Itulah beberapa pertanyaan yang masih bisa saya ingat, yang sering ditanyakan sejak 28 Desember 2018 lalu. Ya, sejak saat itu, saya pindah dari kampung halaman saya, Bali, ke Jambi, untuk bekerja di salah satu sekolah swasta/SPK di kota Jambi. Ketika saya mengutarakan keinginan saya untuk pindah ke Jambi kepada para sahabat, saya masih ingat sekali ekspresi mereka yang tampak terbengong-bengong dan keheranan atas apa yang baru saja saya sampaikan. Pun sama juga ketika saya mengutarakan keinginan keinginan saya kepada keluarga. Bahkan ada juga yang mengatakan saya sudah gila, diterpa kerasnya kehidupan di kota Denpasar.

Saya paham betul kenapa banyak orang heran akan keputusan saya. Saya juga paham betul kenapa ada orang yang mengatakan saya sudah gila. Yang saya ketahui, normalnya, orang Bali akan pergi bekerja ke luar Bali jika: 1) Sekolah di luar Bali; 2) Menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS); 3) Menjadi perwira ataupun bintara kepolisian atau tentara; 4) Menjadi Anak Buah Kapal (ABK) Kapal pesiar; 5) Mempunyai keluarga yang tinggal di luar Bali. Saya sendiri tidak masuk ke salah satu golongan tadi. Bahkan, ketika mayoritas orang Bali merantau ke kota besar, saya malah merantau ke Jambi. Dari semua kota yang ada di pulau Jawa, yang notabene adalah pusat ekonomi republic ini, saya memilih Jambi. Really dude?

Berbicara soal ekonomi, memang kampung halaman saya, Bali, berada di atas angin. Berdasarkan data Kajian Ekonomi Regional Bank Indonesia, Ekonomi Bali di tahun 2018 mengalami akselerasi kinerja dengan tumbuh sebesar 6,35% (yoy), lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi tahun 2017 sebesar 5,57% (yoy). Capaian kinerja ekonomi Bali tersebut, juga lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi Nasional tahun 2018 sebesar 5,17% (yoy). Pertumbuhan ekonomi Jambi tahun 2018 adalah sebesar 4,71%, berada hampir 2 poin di Bali. Sederhananya, lebih banyak ada aktivitas ekonomi di Bali, dan kita bisa mendapat tambahan penghasilan lumayan sebagai salah satu pelakon gig economy. Lantas, kenapa Jambi?

Hampir semua pertanyaan tentang alasan saya pindah ke Jambi, saya jawab dengan  “kabur dari mantan”. Tentu saja ini tidaklah benar, tetapi jawaban saya ini cukup untuk menghentikan pertanyaan lanjutan mereka. Kalau sudah tentang cinta, susah untuk dicarikan logikanya (Cieeeh). Oke, cukup. Tulisan ini saya maksudkan untuk menjawab kenapa saya ke Jambi dengan sebenar-benarnya. Alasan saya ada dua, yakni pesawat terbang dan kesempatan.

Pesawat terbang? Apakah di Jambi pesawat terbang adalah bagian dari kontrak saya? Tentu tidak. Maksudnya adalah saya adalah orang yang suka berpergian. Saya masih ingat sekali, saat saya masih kecil, saya menonton program berbahasa Inggris di TVRI kalau tidak salah. Program tersebut menanyangkan seorang backpacker yang berpetualang berbagai tempat. Di pertengahan acara ia mengatakan, “Since I was a child, I always say, I wanna be a tourist”. Sejak saat itu saya menjadikan menjadi turis sebagai salah satu cita-cita saya. Terbang dari Bali ke Jambi membutuhkan transit. Artinya, saya harus dua kali naik pesawat yang berbeda. Bagi sebagian orang, sangatlah melelahkan untuk naik pesawat dua kali. Bagi saya, semakin banyak pesawat yang saya naiki, semakin bagus (haha). Saya sudah pernah mengunjungi semua ibukota provinsi di pulau Jawa. Jambi, adalah titik pertama petualangan saya di pulau Sumatra.

Kesempatan adalah alasan yang paling penting. Pertengahan tahun 2018, saya memang sudah berencana untuk bekerja di luar Bali. Saat itu, saya membayangkan untuk bekerja di Ibukota. Ada beberapa email yang masuk, dan email yang paling menyita perhatian saya adalah email dari Jambi, dari sekolah tempat dimana saya sekarang bekerja. Saya termasuk orang yang beruntung saat itu, dimana saya memiliki seorang Head of School yang sangat suportif. Saya meminta pendapat beliau, dan dengan tegas ia mengatakan, why not? Saya memulai proses lamaran, dan dari waktu ke waktu saya merasa bahwa sekolah di Jambi sangat serius dan saya bisa melihat banyak kesempatan baru dan serius yang bisa saya dapatkan di Jambi. Sampai pada akhirnya, dengan dukungan beberapa penasehat, saya mantap memutuskan untuk pindah ke Jambi.

Sampai sekarang, saya merasa keputusan yang saya ambil sudah tepat. Sampai saya menulis tulisan ini, saya merasa saya mendapat banyak pembelajaran dan mendapat banyak kesempatan baru. Saya merasa terus berkembang setiap harinya. Sekolah saya juga sangat menghargai ide-ide baru dan inovasi-inovasi baru. Secara umum, saya menikmati pekerjaan dan problem yang ada, walaupun ada beberapan kekurangan di tempat ini, yang saya pikir itu adalah sebuah kewajaran. Saya selalu mengingat wejangan dari Head of School di sekolah lama. Fokuslah pada pekerjaan. Be a lifelong and avid learner. Jangan focus pada kekurangan, karena apapun di dunia pasti memiliki kekurangan. Fokuslah pada apa yang kamu bisa lakukan.

Lalu kalau urusan perut, bagaimana? Well, ini boleh dibilang salah satu kebanggaan saya pribadi. Sejujurnya, saya sempat bingung juga untuk memutuskan antara pindah ke Jakarta, Jambi atau tetap di Bali. Apa yang bisa dibanggakan dari sebuah kebingungan? Yang bisa saya banggakan adalah keputusan saya saat itu untuk menggunakan data-based approach. Dengan asumsi pemasukan yang didapat sama di tiga wilayah tersebut, saya menggunakan data biaya hidup yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) untuk tiga wilayah tersebut, untuk mengitung berapa uang yang bisa saya tabung sebulannya. Hasilnya, saya bisa menabung sedikit lebih banyak di Jambi. Mungkin karena di Jambi minim tempat hiburan sehingga godaan untuk keluar sedikit. Selain itu, saya mendapat sebuah kamar asrama dari sekolah yang nyaman, membuat saya memilih untuk menghabiskan malam di kamar daripada di luar.

Dengan alasan-alasan yang sudah saya kemukakan, sampai sekarang saya masih senang untuk mengatakan, "Saya adalah orang yang cukup gila untuk pindah ke Jambi”. Kenapa? Karena orang-orang gilalah yang mengubah dunia.

Senin, 04 Mei 2020

Gara-Gara Om Jay: Memanggil Kembali Si Penulis Kecil dalam Diri

Hari Minggu kemarin sepertinya akan menjadi hari-hari #WorkFromHome lainnya. Makan 3 kali sehari (sudah jelas ya haha), menyiapkan materi pembelajaran daring, olah raga, main sosmed lalu tidur. Repeat. Perkiraan saya tentang hari Minggu kemarin ternyata meleset. Kemarin saya mengikuti Webinar via ZOOM tentang menulis yang dibawakan oleh bapak Wijaya Kusumah, S.Pd., M.Pd, yang biasa atau mungkin lebih suka dipanggil Om Jay. Judul webinar-nya adalah “Menulis Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi!” Presentasi yang dibawakan oleh Om Jay, semuanya bermuara pada hal ini: Ayo menulis setiap hari! Selesai mengikuti webinar tersebut, saya merasa seperti ada déjà vu. Akhirnya saya memutuskan untuk membongkar dokumen-dokumen lama. Ternyata, presentasi yang disampaikan Om Jay bukan yang pertama kali.

Membuka dokumen-dokumen lama menjadi hiburan tersendiri kemarin.  Dunia tulis menulis bukanlah hal yang baru; ketika saya masih menjadi siswa, saya sering sekali menulis untuk madding, majalah sekolah sampai ikut lomba menulis. Tahun 2005, saya menjadi finalis lomba Mengarang Bahasa Indonesia tingkat Nasional di Sawangan, Depok. Walaupun tidak mendapat juara, ada satu pengalaman yang tak mungkin bisa terlupa, yaitu naik pesawat terbang untuk pertama kali. Maklum, untuk anak kampong seperti saya, naik pesawat terbang adalah barang mewah saat itu. Setelah itu saya semakin rajin ikut kegiatan menulis. Kegiatan menulis membuat saya merasakan banyak hal yang “mewah” (agak hiperbola sih, haha), setidaknya untuk saat itu.

Kegiatan tulis-menulis saya berlanjut di tingkat SMA. Ketika saya masih duduk di kelas X, ada seorang sastrawan Bali yang bernama Cok Sawitri, dating ke sekolah saya untuk memberikan pelatihan menulis khusus untuk anak ekstra kurikuler (ekskul) Jurnalistik dan Sastra. Kebetulan, saya tergabung di ekskul tersebut. Saya ingat sekali ibu Cok Sawitri mengatakan seperti ini “Keterampilan yang paling menghasulkan dan paling mudah dipelajari adalah keterampilan menulis.” Wow. Saat itu saya semakin termotivasi untuk menulis, walaupun tidak bisa sampai naik pesawat lagi seperti waktu SMP. Kegiatan menulis saya menghantarkan saya sampai menjadi Juara 1 Penulisan Artikel Ilmiah Populer bertema Budaya tingkat Provinsi. Saya juga sempat menjabat sebagi ketua redaksi majalah sekolah. Intinya, saya masih tidak jauh-jauh dari dunia tulis-menulis saat SMA.

Semua berubah saat negara api menyerang. Eh, bukan. Maksudnya, semua berubah saat saya masuk ke dunia perkuliahan. Saya mengambil jurusan Pendidikan Kimia. Jurusan ini mengharuskan saya banyak menulis laporan praktikum. Lah, bukannya itu termasuk menulis juga? Iya sih, tapi gaya menulisnya sangat kaku. Waktu praktikum panjang dan sangat menguras tenaga membuat rasa malas saya memenangkan pergulatan batin: antara menulis dan rebahan sehabis dari kampus. Selain itu, saya juga aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan, sehingga membuat rebahan semakin adikuasa sehabis dari kampus. Walaupun saya masih menulis beberapa karya tulis ilmiah, tapi hasilnya tidak terlalu baik jika dibandingkan hasil menulis saya saat saya masih sekolah.

Dunia kerja juga semakin mengubur keinginan menulis saya. Pergulatan mencari kerja, kerasnya ibukota plus tipisnya dompet membuat dunia tulis-menulis saya bak pulau kapuk. Ternyata benar, dunia sehabis kuliah tidak seindah seperti dalam sinetron-sinetron. Semakin lama, semakin tenggelam, saya sendiri hamper lupa kalau saya pernah bisa menulis essay 5000 kata. Pisau yang tajam pun akan tumpul kalau tidak diasah. Yang terjadi adalah, saya sampai harus berpikir satu hari untuk memulai tulisan ini.

Jikalau saya tidak mengikuti webinar Om Jay, mungkin saya masih belum ingat kalau saya sempat bisa menulis dulu. Sekarang mungkin sudah saatnya untuk saya berkarya kembali. Apalagi, keterampilan menulis amat diperlukan oleh saya yang saat ini masih berprofesi sebagai seorang guru. Om Jay mengatakan, keterampilan menulis sudah membawanya ke luar negeri dan rejeki. Dulu saya sempat merasakannya waktu masih sekolah, walaupun sedikit. Gara-gara Om Jay, saya jadi ingat kalau saya dulu adalah seorang penulis walaupun kecil.

Kenapa Pindah ke Jambi?

“Dari Bali ya? Kenapa pindah ke Jambi?” “Mas dari Bali kan? Kok mau pindah ke Jambi? Di Bali kan enak, banyak pantai…” “Kok mau sih pin...