Minggu, 14 September 2014

Saintifik? Lanjut gak yaa

Pagi ini saya sempat berdiskusi dan mendapat kritik yang sangat produktif dari teman sejawat PPL. Kebetulan teman sejawat saya ini mendapat keluh kesah tentang penerapan model pembelajaran saya (discivery) dari murid, yang saya tangkap, model ini baru dan tidak jelas gitu.
Dalam hati kecil saya, saya tersenyum. Saya teringat pada perkataan Salah satu profesor saya, yang mengatakan "kebingungan adalah salah satu indikator terjadinya proses belajar". Biasanya ketika benar-benar belajar, seseorang akan mengalami konflik dalam pikirannya (istilah kerennya konflik kognitif) saat berusaha mencocokkan pengetahuan lama dengan pengetahuan baru, apalagi pengetahuan baru hasil sendiri. Apabila siswa hanya menerima saja, menerima ceramah dari guru (transfer ilmu), tentu prosesnya akan cepat, akan tetapi ini bertentangan dengan teori konstruktivis.
Terus gimana? Alhasil, akibat masukan ini saya segera menganalisis RPP dan LKS yang saya buat. Kemungkinan besar:
  • LKS yang saya buat kurang men-direct siswa (kekurangan saya yg tidak bisa bimbingan dengan dospem setiap hari)
  • Siswa kurang terbiasa dengan pendekatan saintifik #lagi
  • Saya kurang mampu melaksanakan RPP secara real, ini berkaitan dengan kompetensi pedagogis yg saya miliki sekarang, sehingga siswa tidak terhanyut secara utuh pada skenario yang saya buat
  • Minggu lalu siswa masih dalam tahap pengumpulan data dan pengolahan data, minggu ini sudah masuk pada tahap verifikasi dan generalisasi, semoga murid-murid nanti tercerahkan yaa

Well done! Terima kasih, ini pagi yang sangat produktif, semoga pagi esok seperti ini lagi!
Stay Hungry, Stay foolish!

Jumat, 12 September 2014

Mana yang benar, fakta atau teori?

Suatu saat, ketika sedang praktikum, kelompok satu membandingkan data yang iya dapat dengan teori. Ternyata memang data yang iya dapatkan berbeda dengan teori. Sontak saja muncul pernyataan, "Percobaan ini salah, datanya salah".
Saya hanya tersenyum, tertawa kecil. Bagaimana mungkin percobaan yang iya lakkukan salah? percobaan ini adalah fakta, baru saja dilakukan.
Sekali lagi, saya mendapat bukti kalau siswa belum terbiasa dengan pendekatan saintifik.
Menyalahkan fakta yang terjadi dan cenderung memaksakan teori yang ada adalah contoh perilaku yang harus kita benahi bersama. Data tidak ada salah, tetapi data itu cuma tidak seperti yang kita inginkan.
memang ini adalah percobaan, bukanlah eksperimen. Tapi, yang terpenting tetaplah kemampuan kita untuk menjelaskan segala fenomena yang terjadi di alam. TEORI LAHIR DARI FAKTA. bukan sebaliknya.
Laporan praktikum bukanlah sebuah teori yang diulang, tetapi sebuah fakta yang dijelaskan secara logis, sistematis dan nantinya akan cenderung cocok pada teori yang diciptakan sebelumnya.
Terus kalau tidak cocok gimana? Salahkah?
Laporan praktikum juga hendaknya bisa menjelaskan tiap detil kesalahan yang dilakukan. Sehingga di masa depan, kita tidak akan melakukan kesalahan yang sama.
Data itu adalah tulisan tuhan. Kita sebagai manusialah yang wajib mencari pemacahannya.
Takut? kenapa mesti takut? Gak ada salahnya mencoba? Lipat Tangan? Mending Turun Tangan!

Pendekatan Saintifik- Edisi PPL #1

Memang, siswa sekarang belum siap dengan pendekatan saintifik. Siswa merasa lebih senang guru menjelaskan panjang lebar materi, daripada mengerjakan LKS yang GaJe (LKS isinya permasalahan di kehidupan sehari-hari, merumuskan masalahm hipotesis, solusi sendiri).
Saya pribadi sering khawatir dengan hal ini. Banyak kawan yang menyarankan untuk menggunakan pendekatan ini "di atas kertas saja". Yang penting, materi hitungan-hitungan tersampaikan.
Lagi-lagi, hati nurani bicara. Saya putuskan untuk mencoba saja tiap teori yang ada, walaupun kenyataan di lapangan tidak semudah teori. Kalau tidak sekarang, kapan lagi??
Saya percaya kalau ilmu kimia ini bukanlah kumpulan literatur, bukanlah sekedar kumpulan hitungan. hitungan adalah sebuah alat.
Saya pribadi sangat percaya, KALAU DI AKHIR PENDIDIKAN BUKANLAH SEBUAH ILMU YANG MENJULANG. Ada sesuatu yang lebih penting
AKHIR DARI SEBUAH PENDIDIKAN ADALAH KARAKTER.
Dengan karakter yang baik, di masa depan siswa akan lebih mudah menguasai ilmu, dan menerapkannya.

Sekali lagi, "The end of education is character"
Repot?Kok takut? Coba? Ayo coba! Daripada lipat tangan, mending turun tangan!

Kenapa Pindah ke Jambi?

“Dari Bali ya? Kenapa pindah ke Jambi?” “Mas dari Bali kan? Kok mau pindah ke Jambi? Di Bali kan enak, banyak pantai…” “Kok mau sih pin...