Hari Minggu kemarin sepertinya akan menjadi hari-hari #WorkFromHome lainnya. Makan 3 kali
sehari (sudah jelas ya haha), menyiapkan materi pembelajaran daring, olah raga,
main sosmed lalu tidur. Repeat. Perkiraan saya tentang hari
Minggu kemarin ternyata meleset. Kemarin saya mengikuti Webinar via ZOOM tentang menulis yang dibawakan oleh bapak Wijaya
Kusumah, S.Pd., M.Pd, yang biasa atau mungkin lebih suka dipanggil Om Jay.
Judul webinar-nya adalah “Menulis
Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi!” Presentasi yang dibawakan oleh Om
Jay, semuanya bermuara pada hal ini: Ayo menulis setiap hari! Selesai mengikuti
webinar tersebut, saya merasa seperti
ada déjà vu. Akhirnya saya memutuskan
untuk membongkar dokumen-dokumen lama. Ternyata, presentasi yang disampaikan Om
Jay bukan yang pertama kali.
Membuka dokumen-dokumen lama menjadi hiburan tersendiri
kemarin. Dunia tulis menulis bukanlah
hal yang baru; ketika saya masih menjadi siswa, saya sering sekali menulis
untuk madding, majalah sekolah sampai ikut lomba menulis. Tahun 2005, saya
menjadi finalis lomba Mengarang Bahasa Indonesia tingkat Nasional di Sawangan,
Depok. Walaupun tidak mendapat juara, ada satu pengalaman yang tak mungkin bisa
terlupa, yaitu naik pesawat terbang untuk pertama kali. Maklum, untuk anak kampong
seperti saya, naik pesawat terbang adalah barang mewah saat itu. Setelah itu
saya semakin rajin ikut kegiatan menulis. Kegiatan menulis membuat saya
merasakan banyak hal yang “mewah” (agak hiperbola sih, haha), setidaknya untuk
saat itu.
Kegiatan tulis-menulis saya berlanjut di tingkat SMA. Ketika
saya masih duduk di kelas X, ada seorang sastrawan Bali yang bernama Cok
Sawitri, dating ke sekolah saya untuk memberikan pelatihan menulis khusus untuk
anak ekstra kurikuler (ekskul) Jurnalistik dan Sastra. Kebetulan, saya
tergabung di ekskul tersebut. Saya ingat sekali ibu Cok Sawitri mengatakan
seperti ini “Keterampilan yang paling menghasulkan dan paling mudah dipelajari
adalah keterampilan menulis.” Wow. Saat itu saya semakin termotivasi untuk
menulis, walaupun tidak bisa sampai naik pesawat lagi seperti waktu SMP.
Kegiatan menulis saya menghantarkan saya sampai menjadi Juara 1 Penulisan
Artikel Ilmiah Populer bertema Budaya tingkat Provinsi. Saya juga sempat
menjabat sebagi ketua redaksi majalah sekolah. Intinya, saya masih tidak
jauh-jauh dari dunia tulis-menulis saat SMA.
Semua berubah saat negara api menyerang. Eh, bukan. Maksudnya, semua berubah saat saya masuk ke dunia
perkuliahan. Saya mengambil jurusan Pendidikan Kimia. Jurusan ini mengharuskan
saya banyak menulis laporan praktikum. Lah,
bukannya itu termasuk menulis juga? Iya sih, tapi gaya menulisnya sangat kaku.
Waktu praktikum panjang dan sangat menguras tenaga membuat rasa malas saya
memenangkan pergulatan batin: antara menulis dan rebahan sehabis dari kampus. Selain itu, saya juga aktif di
berbagai organisasi kemahasiswaan, sehingga membuat rebahan semakin adikuasa sehabis dari kampus. Walaupun saya masih
menulis beberapa karya tulis ilmiah, tapi hasilnya tidak terlalu baik jika
dibandingkan hasil menulis saya saat saya masih sekolah.
Dunia kerja juga semakin mengubur keinginan menulis saya.
Pergulatan mencari kerja, kerasnya ibukota plus tipisnya dompet membuat dunia
tulis-menulis saya bak pulau kapuk. Ternyata benar, dunia sehabis kuliah tidak
seindah seperti dalam sinetron-sinetron. Semakin lama, semakin tenggelam, saya
sendiri hamper lupa kalau saya pernah bisa menulis essay 5000 kata. Pisau yang
tajam pun akan tumpul kalau tidak diasah. Yang terjadi adalah, saya sampai
harus berpikir satu hari untuk memulai tulisan ini.
Jikalau saya tidak mengikuti webinar Om Jay, mungkin saya masih belum
ingat kalau saya sempat bisa menulis dulu. Sekarang mungkin sudah saatnya untuk
saya berkarya kembali. Apalagi, keterampilan menulis amat diperlukan oleh saya
yang saat ini masih berprofesi sebagai seorang guru. Om Jay mengatakan,
keterampilan menulis sudah membawanya ke luar negeri dan rejeki. Dulu saya
sempat merasakannya waktu masih sekolah, walaupun sedikit. Gara-gara Om Jay,
saya jadi ingat kalau saya dulu adalah seorang penulis walaupun kecil.
Webinar yg menyenangkan. Sip. Silakan mampir di isminatun.blogspot.com
BalasHapusSiap sudah bu, hehe
HapusMantap singaraja mana ya?
BalasHapusDulu kuliah di Undiksha Bu, hehe
HapusKeren... Potensi yg luar biasa. .. Buktikan����
BalasHapusTrims, mohon bimbingannya terus ya
HapusAh, benar banget... Keterampilan yang tidak dipakai, lama-lama akan hilang, seperti pisau yang jadi tumpul dan berkarat karena tak pernah diasah. Semangat!
BalasHapusSalam,
Nadiya