Senin, 04 Mei 2020

Gara-Gara Om Jay: Memanggil Kembali Si Penulis Kecil dalam Diri

Hari Minggu kemarin sepertinya akan menjadi hari-hari #WorkFromHome lainnya. Makan 3 kali sehari (sudah jelas ya haha), menyiapkan materi pembelajaran daring, olah raga, main sosmed lalu tidur. Repeat. Perkiraan saya tentang hari Minggu kemarin ternyata meleset. Kemarin saya mengikuti Webinar via ZOOM tentang menulis yang dibawakan oleh bapak Wijaya Kusumah, S.Pd., M.Pd, yang biasa atau mungkin lebih suka dipanggil Om Jay. Judul webinar-nya adalah “Menulis Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi!” Presentasi yang dibawakan oleh Om Jay, semuanya bermuara pada hal ini: Ayo menulis setiap hari! Selesai mengikuti webinar tersebut, saya merasa seperti ada déjà vu. Akhirnya saya memutuskan untuk membongkar dokumen-dokumen lama. Ternyata, presentasi yang disampaikan Om Jay bukan yang pertama kali.

Membuka dokumen-dokumen lama menjadi hiburan tersendiri kemarin.  Dunia tulis menulis bukanlah hal yang baru; ketika saya masih menjadi siswa, saya sering sekali menulis untuk madding, majalah sekolah sampai ikut lomba menulis. Tahun 2005, saya menjadi finalis lomba Mengarang Bahasa Indonesia tingkat Nasional di Sawangan, Depok. Walaupun tidak mendapat juara, ada satu pengalaman yang tak mungkin bisa terlupa, yaitu naik pesawat terbang untuk pertama kali. Maklum, untuk anak kampong seperti saya, naik pesawat terbang adalah barang mewah saat itu. Setelah itu saya semakin rajin ikut kegiatan menulis. Kegiatan menulis membuat saya merasakan banyak hal yang “mewah” (agak hiperbola sih, haha), setidaknya untuk saat itu.

Kegiatan tulis-menulis saya berlanjut di tingkat SMA. Ketika saya masih duduk di kelas X, ada seorang sastrawan Bali yang bernama Cok Sawitri, dating ke sekolah saya untuk memberikan pelatihan menulis khusus untuk anak ekstra kurikuler (ekskul) Jurnalistik dan Sastra. Kebetulan, saya tergabung di ekskul tersebut. Saya ingat sekali ibu Cok Sawitri mengatakan seperti ini “Keterampilan yang paling menghasulkan dan paling mudah dipelajari adalah keterampilan menulis.” Wow. Saat itu saya semakin termotivasi untuk menulis, walaupun tidak bisa sampai naik pesawat lagi seperti waktu SMP. Kegiatan menulis saya menghantarkan saya sampai menjadi Juara 1 Penulisan Artikel Ilmiah Populer bertema Budaya tingkat Provinsi. Saya juga sempat menjabat sebagi ketua redaksi majalah sekolah. Intinya, saya masih tidak jauh-jauh dari dunia tulis-menulis saat SMA.

Semua berubah saat negara api menyerang. Eh, bukan. Maksudnya, semua berubah saat saya masuk ke dunia perkuliahan. Saya mengambil jurusan Pendidikan Kimia. Jurusan ini mengharuskan saya banyak menulis laporan praktikum. Lah, bukannya itu termasuk menulis juga? Iya sih, tapi gaya menulisnya sangat kaku. Waktu praktikum panjang dan sangat menguras tenaga membuat rasa malas saya memenangkan pergulatan batin: antara menulis dan rebahan sehabis dari kampus. Selain itu, saya juga aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan, sehingga membuat rebahan semakin adikuasa sehabis dari kampus. Walaupun saya masih menulis beberapa karya tulis ilmiah, tapi hasilnya tidak terlalu baik jika dibandingkan hasil menulis saya saat saya masih sekolah.

Dunia kerja juga semakin mengubur keinginan menulis saya. Pergulatan mencari kerja, kerasnya ibukota plus tipisnya dompet membuat dunia tulis-menulis saya bak pulau kapuk. Ternyata benar, dunia sehabis kuliah tidak seindah seperti dalam sinetron-sinetron. Semakin lama, semakin tenggelam, saya sendiri hamper lupa kalau saya pernah bisa menulis essay 5000 kata. Pisau yang tajam pun akan tumpul kalau tidak diasah. Yang terjadi adalah, saya sampai harus berpikir satu hari untuk memulai tulisan ini.

Jikalau saya tidak mengikuti webinar Om Jay, mungkin saya masih belum ingat kalau saya sempat bisa menulis dulu. Sekarang mungkin sudah saatnya untuk saya berkarya kembali. Apalagi, keterampilan menulis amat diperlukan oleh saya yang saat ini masih berprofesi sebagai seorang guru. Om Jay mengatakan, keterampilan menulis sudah membawanya ke luar negeri dan rejeki. Dulu saya sempat merasakannya waktu masih sekolah, walaupun sedikit. Gara-gara Om Jay, saya jadi ingat kalau saya dulu adalah seorang penulis walaupun kecil.

7 komentar:

  1. Webinar yg menyenangkan. Sip. Silakan mampir di isminatun.blogspot.com

    BalasHapus
  2. Keren... Potensi yg luar biasa. .. Buktikan����

    BalasHapus
  3. Ah, benar banget... Keterampilan yang tidak dipakai, lama-lama akan hilang, seperti pisau yang jadi tumpul dan berkarat karena tak pernah diasah. Semangat!

    Salam,
    Nadiya

    BalasHapus

Kenapa Pindah ke Jambi?

“Dari Bali ya? Kenapa pindah ke Jambi?” “Mas dari Bali kan? Kok mau pindah ke Jambi? Di Bali kan enak, banyak pantai…” “Kok mau sih pin...